Leadership

Merawat Ukhuwah, Merajut Peradaban

Seperempat abad bukanlah detik yang berlalu begitu saja—ia adalah perjalanan yang diukir oleh iman, diuji oleh berbagai cobaan, dan terikat oleh benang takdir yang tak terlihat. Selama dua puluh lima tahun, Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) telah tumbuh dari sebuah perhimpunan kekerabatan budaya menjadi gugusan cahaya yang menyatukan bangsa-bangsa, melestarikan warisan, dan mengangkat semangat ikatan peradaban yang diwarisi bersama oleh dunia Melayu dan Islam. Apa yang bermula sebagai sebuah visi kini telah menjelma menjadi sebuah gerakan—berakar pada sejarah, ditempa oleh perjuangan, dan dipelihara oleh rahmat Allah. Sebagaimana yang direfleksikan oleh Presidennya, Yang Terutama Tun Seri Setia Dr. Mohd Ali bin Mohd Rustam, DMDI terus berdiri teguh—masih menghimpunkan warganya dalam konvensyen tahunan, masih merangkul saudara-saudari dari 23 negara, dan terus memperluas misi persatuan serta khidmat. Warisannya tidak hanya terukir dalam buku atau majelis resmi, tetapi dalam amal kebajikan—mengulurkan tangan menghapus air mata para korban tsunami di Aceh dan Sri Lanka, membangun panti asuhan dari kasih sayang, mendirikan rumah bagi para mualaf di Bengkalis, serta menabur benih pendidikan dan martabat di setiap tempat di mana harapan seakan memudar. Ini bukan sekadar kisah sebuah organisasi—ini adalah kisah tentang satu jiwa bersama yang ingat dari mana ia berasal dan memahami ke mana ia harus melangkah.

THE PRESIDENT’S PATH: DUTY AND DEVOTION

25 TAHUN DMDI DI PENTAS DUNIA

MERAWAT UKHUWAH,

MERAJUT PERADABAN

Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Dalam rentang itu, Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) telah menjelma menjadi simpul besar yang merajut persaudaraan, mengikat sejarah, sekaligus menjadi saksi betapa takdir Allah menuntun perjalanan umat di tengah suka dan duka.

Dengan penuh rasa syukur, Presiden DMDI Tuan Yang Terutama Tun Seri Setia Dr Mohd Ali bin Mohd Rustam menuturkan bahawa hingga kini, organisasi ini masih berdiri tegak, masih mampu mengadakan konvensyen setiap tahun, dan masih menjadi rumah besar bagi bangsa Melayu–Islam dari 23 negara. “Banyak lagi negara yang mahu ikut serta, insya Allah akan datang kita tubuhkan,” ujarnya saat menerima DMDI Magazine di Istana Melaka.

Perjalanan panjang itu tak hanya berisi rapat dan sidang, tetapi juga penuh kisah menyentuh. Salah satunya adalah ketika DMDI turut hadir di tengah luka besar umat: tsunami Asia 2004. Gelombang raksasa yang menyapu Aceh hingga Sri Lanka meninggalkan luka dalam yang tak mudah disembuhkan. Ratusan ribu jiwa terenggut seketika. “Peristiwa itu amatlah menyakitkan hati sekali. Kita tak pernah sangka, terlalu ramai yang mati,” kenang beliau dengan mata berkaca.

Beliau sendiri turun langsung ke Aceh, ke Sri Lanka, menyaksikan reruntuhan dan air mata. Di Malaysia, Kedah pun turut merasakan getaran tsunami. Namun di tengah kehancuran itu, lahirlah solidaritas. DMDI bersama Kerajaan Negeri Melaka turun memberi bantuan, meneguhkan persaudaraan di atas puing-puing bencana.

Di Aceh Kerjaan Melaka dan DMDI menubuhkan Rumah Anak Yatim Tsunami Aceh dengan nilai sumbahan sebesar RM 700 ribu, yang mana hingga hari ini masih terjaga dengan baik. Bangunan didirikan di atas tanah wakaf dari Pak Lajwardi Aceh.

Dari situlah lahir inisiatif besar: DMDI membeli tanah seluas 6 hektar di Sri Lanka, tepatnya di Serbastan. Awalnya, tanah itu diniatkan untuk membangun perkampungan Tsunami. Namun rencana berubah, tiga hektar dialihkan kepada sebuah hospital swasta untuk mendirikan welfare hospital.

Kini, rumah sakit itu sudah beroperasi, melayani masyarakat, dibantu pemerintah Sri Lanka. Sisa tiga hektar lagi masih kosong, dengan rencana akan ditukar dengan tanah baru seluas enam hektar di tepi laut pedalaman. Sementara itu, sebidang lahan lain sudah diniatkan untuk institusi pendidikan.

Tidak berhenti di situ, DMDI juga membantu menyediakan perahu nelayan bagi masyarakat di Sri Lanka. Sebuah usaha kecil, tapi bermakna besar: memberi kesempatan mereka menjana rezeki dengan tangan sendiri. Perjalanan sejarah DMDI kemudian membawa Presiden menapaki jejak lama di Indonesia. Di Jakarta, beliau menemukan jalan-jalan dengan nama pahlawan Melayu: Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Nadim, Hang Lekiu. Di Riau, beliau melihat Lancang Kuning, kapal yang selama ini hanya dikenal lewat syair.

Di Siak Sri Indrapura, beliau menghadiri perasmian istana lama peninggalan Raja Riau. Hujan lebat mengguyur, seakan alam turut menyambut kedatangan seorang pembesar. “Mereka bilang, kalau pembesar datang, selalu ada tanda luar biasa,” katanya sambil tersenyum. Di Bengkalis-Riau, DMDI turut membantu membangun rumah-rumah untuk masyarakat Mualaf. "Rumah Saudara Baru" Pusat Pembinaan Muallaf di Desa Jangkang, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis. Di setiap langkah, amal dan sejarah berpadu, seakan menegaskan bahawa Melaka dan Indonesia terikat oleh benang merah sejak berabad-abad lalu.

Di Palembang, beliau mendaki Bukit Siguntang Mahamiru, tempat yang termaktub dalam Sejarah Melayu. “Dulu saya sangka setinggi Gunung Ledang, rupanya lebih rendah,” ujarnya. Namun di balik kesederhanaannya, bukit itu menyimpan makna—jejak puteri Melayu, kisah raja-raja, dan saksi perjanjian lama yang menautkan sejarah kedua bangsa.

Dari Padang, DMDI memberi bantuan bagi Sekolah Dasar Siti Nurbaya yang roboh, dengan dana sekitar RM 300,000. Di sana pula, jejak budaya kembali dirajut melalui tari piring dan tradisi Minangkabau yang dipertontonkan dalam festival Nusantara. Bagi Tuan Presiden, salah satu peristiwa yang tak kalah berkesan ialah mendirikan pusat pembelajaran untuk komunitas Tionghua mualaf. Dengan dana sekitar RM 300,000 pada masa itu—yang kini nilainya satu miliar rupiah lebih—sebuah pusat pertemuan dibangun, hingga kini masih menjadi ruang belajar dan silaturahim.

Di Jakarta, DMDI Indonesia berhasil membeli sebuah rumah tua di Kampung Manila. Awalnya hendak dijual, tetapi kemudian dijadikan pusat pengajian. Sejak saat itu, rumah itu menjadi simbol kesatuan Melayu–Islam di ibu kota. Inisiatif Rumah Angkat dan Kampung Angkat juga berjalan di Medan dan Jakarta. Setiap tempat menjadi simpul silaturahim, memperkuat rasa kebersamaan serumpun.

Semua itu, menurut beliau, adalah cerminan dari satu nilai: ukhuwah Melayu–Islam. Persaudaraan yang melintasi batas negara, bahasa, bahkan perbedaan etnis. Perjalanan DMDI pun merambah jauh. Di Sri Lanka, beliau pernah menaiki pesawat tentera kecil berkapasitas enam orang. Karena jadual padat, kepulangan yang seharusnya siang hari ditunda hingga malam. Pesawat kecil sebetulnya tak boleh terbang malam, apalagi dalam cuaca berawan. Namun penerbangan tetap dilakukan. “Berani saja juruterbangnya,” katanya. Malam itu, mereka menembus awan gelap, penuh risiko.

Dari udara, beliau sempat melihat Adam’s Peak, yang diyakini masyarakat sebagai tempat turunnya Nabi Adam. Simbol spiritual yang memberi makna mendalam dalam perjalanan itu. Tak hanya Asia, DMDI juga melangkah ke Amerika Selatan. Di sana, Tuan Presiden bertemu masyarakat Melayu dan Indonesia yang telah lama merantau. Ia berziarah ke makam mereka, merasakan bagaimana diaspora Melayu–Islam menanam akar jauh di tanah asing.

Di Aceh, beliau melihat dua wajah sejarah. Sebelum tsunami, Aceh masih diliputi konflik. Tentera bersenjata memenuhi jalan, senapang terhunus di pos-pos penjagaan. Namun selepas tsunami, suasana berubah. Kedamaian perlahan hadir, luka diobati dengan persaudaraan.

DMDI hadir di Aceh bukan hanya dengan bantuan, tetapi juga dengan program budaya. Festival Gendang Nusantara digelar, menampilkan tarian saman, tari piring, musik tradisi, hingga kuliner Melayu. Dalam hujan, gendang dipukul, tarian dimainkan, dan senyum mengembang. Dari Aceh, Padang, hingga ke Melaka, seni budaya menjadi jambatan yang merapatkan hati.

“Kita gunakan kebudayaan—muzik, tarian, makanan—untuk merapatkan hubungan,” ujar beliau. Bagi DMDI, budaya bukan sekadar hiburan, melainkan bahasa persaudaraan yang universal.

Dari Jambi hingga Sumatera Barat, beliau berjumpa dengan banyak tokoh. Ada yang meminta DMDI ikut mendukung pembangunan sawit, ada yang mengajak merintis program bersama. Semua menunjukkan bahwa DMDI dilihat bukan hanya sebagai organisasi budaya, tetapi juga sebagai jaringan strategis umat.

Di setiap tempat yang disinggahi, selalu ada persamaan sejarah. Nama jalan, istana lama, makam pahlawan, hingga lagu rakyat menjadi bukti bahwa ikatan Melayu–Islam tak pernah terputus. Dari Lancang Kuning di Riau hingga Bukit Siguntang di Palembang, dari Adam’s Peak di Sri Lanka hingga Kampung Manila di Jakarta, semuanya menjadi titik-titik cahaya dalam perjalanan 25 tahun DMDI.

Benang merah itu adalah amal dan silaturahim. Amal yang mewujud dalam rumah sakit, sekolah, rumah angkat, perahu nelayan, pusat pengajian. Silaturahim yang terjalin dalam festival budaya, konvensyen, dan kunjungan antara negara.

“Kita makhluk tak dapat melawan takdir,” ucap beliau. “Tapi kita boleh memilih untuk bersatu, membantu, dan menjaga persaudaraan.” Itulah falsafah yang membuat DMDI tetap relevan hingga kini.

Kini, setelah dua puluh lima tahun, DMDI bukan lagi sekadar organisasi. Ia telah menjadi aliran sejarah yang terus menyambung warisan Melayu– Islam, menghadirkan harapan, dan menegaskan bahwa di mana pun orang Melayu berada—dari Sri Lanka hingga Amerika Selatan, dari Melaka hingga Jakarta—ada satu ikatan yang tak akan pernah terputus: ukhuwah Melayu–Islam sepanjang zaman.

Merentas Nusantara: Dari Gunung Daik ke Masjid Makati

Perjalanan DMDI juga membawa langkah ke Gunung Daik Lingga di Kepulauan Riau, sebuah nama yang sering dinyanyikan dalam syair lama: “Gunung Daik bercabang tiga.” Tempat itu bukan sekadar gunung, tetapi simbol keagungan sejarah Melayu. Tuan Presiden menjejakinya, merasakan getaran lama yang tertulis dalam hikayat.

Dari sana, perjalanan merambah ke Kemboja, di mana masyarakat Melayu masih bertahan dengan identitasnya. Di negeri Angkor itu, beliau terpesona melihat betapa ramai orang Melayu yang masih menjaga budaya dan agama, meski hidup sebagai minoriti. “Semua teruja, ramai-ramai naik pantan, lihat pura yang berbentuk,” kenangnya dengan nada kagum. Karena ramai yang naik panggung, hingga panggungnya pun roboh, kenang beliau.

Semasa penubuhan DMDI di Timor Leste, pesawat khas yang membawa rombongan telah membuat persinggahan di Lapangan Terbang Surabaya. Namun, berlaku sedikit insiden apabila salah seorang penumpang turun dari pesawat dan merokok di kawasan larangan. Akibatnya, beliau telah ditahan oleh pihak keselamatan lapangan terbang.

Di Kemboja, kebersamaan itu terasa hangat. Orang Melayu yang pernah terpinggir kini menemukan semangat baru melalui kehadiran DMDI. Tuan Presiden menegaskan, kehadiran DMDI bukan sekadar lawatan, tetapi sebuah pengakuan bahwa mereka bagian dari rumpun besar yang tak pernah terputus.

Dari Kemboja, langkah berlanjut ke Filipina. Di Makati, beliau mengunjungi sebuah masjid yang kini berdiri megah setelah direnovasi. “Dulu masjidnya sederhana, sekarang sudah cantik,” katanya. Ia sempat bertemu kembali dengan imam lama, meski sebagian sudah tiada.

Filipina juga menyimpan kisah menegangkan. Saat berkunjung ke kawasan selatan, beliau harus menaiki kenderaan bulletproof. Jalan yang ditempuh memakan waktu berjam-jam, penuh kewaspadaan, kerana konflik bersenjata masih berkecamuk. “Tak boleh main-main,” ujarnya, mengingat kembali pengalaman itu.

Bahkan, ada kisah lucu sekaligus tegang ketika seorang sahabat membawa tamu dalam konvensyen Jakarta 2019. Tamu itu disangka anggota kumpulan pembebasan bersenjata dari Filipina. Malam hari, pihak berwenang Indonesia pun datang menyelidik. “Muka dia mirip orang wanted, padahal bukan,” ceritanya sambil tertawa kecil.

Semua pengalaman itu memperlihatkan betapa luasnya jaringan DMDI. Dari Kepulauan Riau hingga Kemboja, dari Filipina hingga Jakarta, setiap langkah penuh dengan kejutan dan pembelajaran.

Di Lombok, beliau kembali melihat jejak Melayu dalam masyarakat Sasak. Masjid tua yang pernah sederhana kini berdiri indah setelah diperbarui. Setiap kunjungan meninggalkan kesan bahwa DMDI hadir tidak hanya sebagai organisasi budaya, tetapi juga sebagai payung persaudaraan bagi siapa saja yang ingin berpegang pada identitas Melayu–Islam.

Tuan Presiden sering menyebut bahwa semua ini adalah “usaha besar-besar” yang lahir dari niat kecil tetapi konsisten. Tidak semua niat menjadi kenyataan, ada yang tertunda, ada yang berubah arah. Namun setiap usaha selalu meninggalkan jejak.

Dari kisah-kisah itu terlihat bahwa menjadi Presiden DMDI bukan sekadar jabatan. Ia adalah perjalanan penuh risiko, pengorbanan, bahkan bahaya. Namun di balik semua itu, ada makna besar: mewakili suara Melayu di pentas dunia, menjalin komunikasi antarbangsa, dan membawa nama bangsa ke tengah percaturan global.“Kadang-kadang kita melalui perkara yang mencabar, ada yang menakutkan, ada yang lucu,” katanya. “Tetapi semuanya itu menunjukkan betapa pentingnya kesatuan, betapa berharganya persaudaraan.”

Kepemimpinan dan Kesungguhan

Dalam pandangan Tuan Presiden, inti dari perjalanan DMDI selama 25 tahun ini adalah kepemimpinan yang berkesungguhan. “Kita nampak, mereka yang benar-benar ikhlas, mereka aktif, mereka terus buat program. Tidak hanya menunggu, tetapi bergerak,” katanya.

Di Indonesia, semangat itu tampak nyata. Dari program dakwah, kegiatan kebudayaan, hingga konvensyen tahunan yang selalu ramai dihadiri. DMDI di sana tidak hanya membicarakan hal-hal besar, tetapi juga merawat Suratul Rahim antara anggota.

Salah satu langkah penting ialah menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa rasmi konvensyen. Meski di Indonesia disebut Bahasa Indonesia, DMDI tetap ingin menjaga istilah “Bahasa Melayu” agar nama itu tidak hilang. Kini, bahkan sudah dimulai kelas Bahasa Melayu online, agar generasi muda di seluruh dunia dapat mempelajarinya.“Bahasa ini adalah jiwa bangsa. Kalau hilang bahasa, hilanglah jati diri,” ujar beliau. Itulah sebabnya bahasa menjadi salah satu fokus utama kepemimpinan DMDI.

Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Cawangan Australia Barat ditubuhkan sebagai sebuah platform strategik bagi memperkukuh hubungan persaudaraan serta memfasilitasi pelbagai kegiatan sosial, budaya, ekonomi dan pendidikan dalam kalangan komuniti Melayu dan Islam di wilayah tersebut. Penubuhan cawangan ini bukan sahaja menjadi ruang penyatuan bagi diaspora Melayu dari pelbagai negara seperti Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei dan Selatan Thailand, tetapi juga berperanan sebagai jambatan kerjasama antarabangsa yang memelihara warisan budaya Melayu- Islam di rantau Australasia sambil memupuk integrasi positif dengan masyarakat setempat. 

Program budaya pun terus digiatkan. Baru-baru ini, misalnya, diadakan pertandingan permainan gasing, sebuah tradisi Melayu yang hampir dilupakan. Lewat kegiatan kecil ini, DMDI ingin menghidupkan kembali warisan budaya di tengah arus globalisasi.

Dukungan juga datang dari tokoh-tokoh besar. Pak Prabowo misalnya, pernah memberikan bantuan berupa mobil van untuk kegiatan DMDI. Pak Jokowi sendiri pernah meresmikan Galeri Melaka di Jakarta, simbol ikatan antara dua bangsa serumpun.

“Tetapi yang luar biasa sekali ialah Pak Said,” kata beliau. Sosok ini dianggap sebagai salah satu tokoh penting yang menggerakkan DMDI hingga ke akar. Kepemimpinannya memberi inspirasi, bahkan hingga ada yang menulis buku khusus tentang perjalanan beliau.

Dalam kepemimpinan, DMDI tidak hanya berhubungan dengan masyarakat awam, tetapi juga dengan para pejabat dan pemimpin negara. Ada bupati, wali kota, hingga menteri yang pernah terlibat langsung. Dari Malaysia hingga Thailand, dari Indonesia hingga Singapura, DMDI selalu menemukan wajah-wajah baru yang membawa semangat.

Semua ini menunjukkan bahwa DMDI adalah jaringan kepemimpinan kolektif. Ia bukan milik satu orang, melainkan milik seluruh umat Melayu–Islam yang ingin menjaga warisan bersama.“Saya melihat, kepemimpinan ini bukan soal jabatan. Ia adalah soal semangat. Soal kesungguhan untuk meneruskan perjuangan, meski berdepan cabaran,” ujar beliau.

Tidak banyak yang mengetahui, gagasan awal terbentuknya Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) lahir dari sebuah keresahan sederhana: orang Melayu sudah tersebar di seluruh dunia, tetapi mereka tidak punya wadah bersama.

Gagasan Awal: Mengapa DMDI Ditubuhkan

“Orang Melayu dah ramai,” kata Tuan Presiden. “Tetapi mereka tidak bertemu, tidak ada organisasi, tidak ada pertemuan.” Maka, lahirlah gagasan besar: mendirikan sebuah organisasi lintas negara yang boleh mempertemukan bangsa serumpun setiap tahun.

Dari situlah lahir DMDI. Sejak hari pertama, prinsipnya jelas: paling tidak, setiap tahun mesti ada konvensyen. Pertemuan tahunan inilah yang menjadi tali pengikat. Walau hanya sekadar bertanya khabar, walau sekadar berkenalan, itu sudah cukup untuk merajut silaturahim.

Tuan Presiden selalu menekankan, bila kita pergi ke mana saja di dunia, dengan adanya DMDI, kita akan selalu punya kawan untuk disapa, rumah untuk dituju. Dari situlah perasaan serumpun menjadi nyata, bukan sekadar kata.

Gagasan awal itu juga disokong banyak tokoh. Dari Thailand, seorang mantan Speaker Parlimen yang kini masih duduk di Dewan. Dari Sri Lanka, Menteri Undang-Undang ketika itu, Gafur. Dari Malaysia, tokoh-tokoh politik dan ulama yang melihat perlunya payung besar. Semuanya menyatukan langkah untuk satu tujuan: Melayu– Islam mesti punya rumah sendiri di pentas dunia.

Ada pula tokoh-tokoh muda yang kemudian menjadi menteri, bahkan presiden parti. Ada yang dulunya peguam, ada yang usahawan, ada pula yang pemimpin masyarakat. Mereka melihat DMDI sebagai ruang untuk memperluas pengaruh, tetapi lebih daripada itu: sebagai wadah untuk berkhidmat kepada umat.

Dari awal, DMDI memberi tumpuan pada tiga bidang utama. Yang pertama ialah pendidikan. Orang Melayu harus lebih tekad mengejar ilmu. Dengan jaringan DMDI, pelajar boleh dihantar belajar ke Malaysia, Indonesia, Singapura, India, hingga ke Thailand, Erpoa dan Timur Tengah. Pendidikan dianggap kunci agar Melayu–Islam tidak ketinggalan zaman.

Yang kedua ialah persaudaraan dan budaya. Bahasa Melayu dijadikan bahasa rasmi konvensyen. Kegiatan kebudayaan dihidupkan. Pertandingan gasing, tarian saman, seni silat, hingga galeri budaya Melaka di luar negeri adalah manifestasi bagaimana budaya dijaga sebagai identitas kolektif.

Yang ketiga ialah ekonomi. “Saya harap dari pertemuan ini, ada usahawan yang lahir, ada saudagar yang kaya, ada yang berjaya,” kata beliau. Dari sini dibentuklah Biro Ekonomi. Ada yang baru belajar berniaga, ada yang masih mencari kawan untuk berdagang, ada pula saudagar besar yang sudah menjadi jutawan. Semuanya duduk sama rata, belajar bersama.

Bahkan mereka yang masih kecil usahanya pun diberi tempat. “Bapak Mohamad, yang susah, yang belum kaya, masuk biro ekonomi. Dia belajar berniaga, cari kawan. Biar sedikit-sedikit, lama-lama jadi saudagar besar.”

Dengan cara ini, DMDI bukan hanya menjaga sejarah, tetapi juga membuka masa depan. Sebuah masa depan di mana Melayu–Islam bukan lagi hanya dikenang, tetapi juga dihormati kerana ilmu, budaya, dan ekonomi. “Itulah sebab DMDI ditubuhkan,” simpul Tuan Presiden. “Supaya Melayu di seluruh dunia ada rumah. Ada keluarga. Ada masa depan bersama.” 

Saudagar Melayu: Dari Sembang ke Sandaran

Dalam setiap pertemuan DMDI, wajah-wajah saudagar sentiasa hadir, mewarnai suasana dengan semangat berniaga. Ada yang sudah mapan, memiliki perniagaan luas dan berjaya, ada juga yang baru mula mencari jejak dalam dunia perdagangan.

Salah seorang tokoh yang dikenali ialah Dato’ Joyah, Ketua Saudagar DMDI. Beliau seorang usahawan yang sudah lama mengembangkan perniagaan dan tidak pernah ragu menyokong program DMDI. Bila diminta, beliau dengan ringan hati menghulurkan sumbangan RM5,000 bahkan RM10,000. “Cakap boleh, sembang pun boleh,” begitu orang mengenalnya.

Selain itu, terdapat juga Datin Seri Azreen yang menguruskan Biro Ekonomi DMDI. Beliau memberi perhatian khusus kepada usahawan-usahawan muda yang baru mula bertapak. Ramai di antara mereka belum mempunyai banyak modal, masih belajar selok-belok perniagaan, dan mencari rakan kongsi. DMDI membuka pintu seluas-luasnya untuk semua, dengan syarat utama: ada semangat membangun ekonomi umat dan daerahnya.

Inilah keindahan DMDI. Saudagar besar dan pengusaha kecil duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Yang punya modal boleh membantu, yang belum berpunya diberi ruang untuk belajar. Semua diberi peluang untuk berkembang.

Daripada pertemuan ini juga lahir pelbagai gagasan baharu. Ada yang mencetuskan idea menghasilkan jam syariah, ada yang meluncurkan kad keanggotaan saudagar global, malah ada yang bermimpi menerbitkan majalah dagang antarabangsa. Prinsipnya mudah: siapa ada idea, silakan jalankan. DMDI menjadi ruang percambahan ilham.

Dalam urusan kewangan, DMDI memegang garis yang jelas. Organisasi ini bukan syarikat, bukan koperasi, dan bukan konglomerat. Ia hanyalah wadah pertemuan, bukan tempat mengaut keuntungan.

DMDI tidak mengenakan cukai, tidak menuntut bahagian daripada perniagaan ahli. Hanya satu syarat yang sentiasa ditegaskan: untung, jangan lupa zakat. Zakat itu bukan untuk organisasi, tetapi untuk negeri masing-masing. Biarlah pejabat agama yang mengurusnya. Dengan begitu, perniagaan tetap bersih, ukhuwah tidak tercemar, dan organisasi bebas daripada beban kewangan.

Inilah wajah ekonomi Melayu–Islam dalam DMDI. Ia bukan sekadar berniaga untuk diri sendiri, tetapi berniaga dengan hati. Jika berjaya, bersyukur. Jika rezeki berlebih, bersedekah. Jika tidak, tidak mengapa. Yang penting, jangan berhenti berusaha.

Ekonomi Sebagai Pancang Tamadun Melayu

Masyarakat Melayu–Islam tidak mungkin mampu menegakkan tamadun tanpa kekuatan ekonomi yang kukuh sebagai tiang penopangnya. Dalam sejarah peradaban dunia, kita belajar bahawa sesuatu bangsa hanya mampu bertahan, membesar, dan dihormati apabila budaya dan peradabannya ditopang oleh kuasa yang kuat. Begitu jugalah halnya dengan kebudayaan Melayu. Untuk ia tegak berdiri, perlu ada pancang yang kukuh, dan salah satu pancang terpenting itu ialah kekuatan ekonomi.

Lebih-lebih lagi apabila ekonomi itu dibangunkan secara bersama oleh bangsa-bangsa serumpun yang mendiami gugusan dunia Melayu. Dalam konteks inilah, kebangkitan ekonomi bukan sahaja menjadi soal keuntungan material, tetapi juga menjadi landasan untuk mempertahankan maruah dan jati diri bangsa.

Dalam suasana gerak ekonomi semasa, amat diperlukan kebersamaan untuk berkongsi gagasan, idea, cadangan, dan ikhtiar harus dirangka dalam semangat kolektif. Tamadun besar tidak lahir daripada bangsa yang miskin dan lemah, sebaliknya lahir daripada bangsa yang berdaya dan berdiri atas kaki sendiri. Oleh itu, pancang-pancang ekonomi rumpun Melayu perlu ditegakkan dengan teguh dan bersepadu.

Apabila asas ekonomi Melayu berdiri kukuh, ia akan merajut solidariti yang lebih padu serta membentuk visi bersama untuk mengangkat martabat bangsa. Dengan demikian, Melayu dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan rumpun-rumpun bangsa lain di dunia.

Kebersamaan, silaturahim, dan jaringan (networking) menjadi tunjang penting dalam membina sinergi potensi yang ada antara bangsa serumpun Melayu. Melalui kebersamaan inilah, kekuatan ekonomi dapat diperkukuh, peradaban dapat dipertahan, dan maruah Melayu dapat terus dimartabatkan.

Dalam setiap konvensyen, para saudagar bukan sahaja bercakap tentang keuntungan. Mereka berbincang tentang promosi lintas negara, peluang di Indonesia, ruang di Malaysia, bahkan pasaran di luar Asia. Semua itu disatukan oleh semangat yang sama: membangun kekuatan ekonomi Melayu–Islam global.

Ada yang hadir membawa projek, ada yang datang sekadar mencari kawan. Ada yang menyumbang besar, ada pula yang hanya membeli tiket untuk turut serta. Namun semuanya diterima dengan tangan terbuka. “Kalau kamu berjaya, kita gembira. Kalau kamu rugi, kita tetap kawan,” ujar Tuan Presiden.

Pada akhirnya, DMDI menjadi ruang besar di mana persahabatan lebih utama daripada keuntungan, ukhuwah lebih berharga daripada modal. Itulah sebabnya, meski banyak perniagaan lahir dari pertemuan-pertemuan DMDI, organisasi ini tetap berdiri sebagai rumah persaudaraan—bukan sebagai syarikat.