THE MORAL COMPASS
Where Values Shape Leadership
SIRI’ NA PACCE SEBAGAI ETIKA KEKUASAAN MENJAGA KEHORMATAN DI TENGAH KEPEMIMPINAN NILAI
“Hal tersulit dalam memimpin bukan mengambil keputusan besar, tetapi konsisten menjaga nilai dalam keputusan-keputusan kecil.”
“Pemimpin boleh berganti, tetapi nilai harus tetap dijaga agar peradaban tidak kehilangan arah.”
Di dalam birokrasi, kekuasaan sering kali hadir sebagai angka, regulasi, dan hierarki. Namun ekuasaan sejati justru lahir dari sesuatu yang jauh lebih sunyi: nilai. Nilai yang tidak tertulis di papan struktur organisasi, tetapi hidup dalam laku sehari-hari seorang pemimpin. Di sanalah ia menambatkan dirinya—pada falsafah Bugis-Makassar yang telah menempa peradaban selama berabad-abad: Siri’ na Pacce dan Lempu.
Demikianlah Ketua Umum DMDI Sulawesi Selatan Datuk Dr. Jufri Rahman kepada DMDI Magazine saat menyampaikan pandangannya— dengan nada yang tenang, penuh wibawa, sarat pengalaman panjang sebagai pemimpin di birokrasi dan masyarakat, serta ditempa oleh kedalaman intelektual yang matang. Setiap kata tidak dilontarkan untuk mengesankan, melainkan diletakkan dengan kesadaran penuh, seolah ia memahami bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir dari gemuruh pernyataan, tetapi dari kejernihan makna. Dalam tutur yang tertata dan sikap yang bersahaja, terpancar keyakinan bahwa kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan amanah; bukan panggung untuk meninggikan diri, melainkan ruang sunyi untuk menegakkan nilai, menjaga martabat, dan menunaikan tanggung jawab sejarah.
Bagi Datuk Dr. Jufri, Siri’ bukan sekadar harga diri personal, melainkan komitmen untuk menjaga martabat semua pihak yang berada dalam lingkar keputusan. Ia adalah kesadaran bahwa setiap kebijakan menyentuh manusia, bukan sekadar berkas. Sementara Pacce adalah empati yang membuat seorang pemimpin tak pernah lupa untuk menundukkan ego, mendengar kegelisahan, dan memahami penderitaan orang lain— bahkan ketika keputusan yang diambil tak selalu menyenangkan. “Kehormatan dan empati,” ujarnya tenang, “bukan hiasan moral. Ia adalah alat navigasi.”
“Saya lebih percaya pada kepemimpinan yang dibangun oleh kepercayaan, bukan oleh hierarki.”
Di sinilah kepemimpinannya menemukan bentuk: tidak keras, tetapi tegas; tidak sentimental, tetapi manusiawi.
Lempu: Kejujuran yang Tidak Bisa Ditawar
Dalam dunia birokrasi modern yang sarat tekanan, kompromi kerap datang dengan wajah rasionalitas. Efisiensi, kepentingan, dan target sering dijadikan alasan untuk melonggarkan prinsip. Namun bagi Datuk Dr. Jufri, Lempu—kejujuran dan kelurusan— adalah fondasi yang tak boleh retak.
“Pacce mengajarkan saya satu hal: sebelum memutuskan, dengarkan lebih dulu siapa yang akan menanggung akibatnya.”
Kejujuran, menurutnya, bukan hanya keberanian untuk berkata benar, tetapi juga kesediaan mengakui kesalahan dan belajar darinya. Ia percaya, kepercayaan publik tidak dibangun dari citra tanpa cela, melainkan dari integritas yang konsisten.
“Kalau kita kehilangan kejujuran,” katanya, “kita akan kehilangan kepercayaan. Dan ketika kepercayaan hilang, kepemimpinan tinggal nama.”
Nilai inilah yang menjadi kompas moralnya dalam menghadapi dilema kebijakan—saat setiap pilihan memiliki konsekuensi, dan tidak semua pihak dapat dipuaskan.
Kepemimpinan: Jabatan atau Nilai
Pengalaman panjangnya di birokrasi mengajarkan satu pelajaran penting: jabatan memberi kewenangan, tetapi nilai memberi pengaruh. Kepemimpinan berbasis jabatan bergantung pada struktur dan perintah. Sementara kepemimpinan berbasis nilai bertumbuh dari kepercayaan, keteladanan, dan integritas personal.
Dalam konteks organisasi seperti DMDI, Dr. Jufri memilih jalan kedua. Ia meyakini bahwa organisasi lintas budaya dan peradaban tidak bisa digerakkan semata oleh struktur formal, melainkan oleh kesamaan nilai yang dihayati bersama. “Nilai membuat organisasi tetap hidup,” tuturnya, “bahkan ketika struktur berubah.”
Dari Birokrasi ke Kepemimpinan Digital
Disertasinya tentang kepemimpinan digital terasa semakin relevan hari ini. Bagi Datuk Dr. Jufri, transformasi digital bukan sekadar soal teknologi, tetapi perubahan cara memimpin. Dari model komando menuju kolaborasi. Dari keputusan tertutup menuju proses yang transparan.
Kepemimpinan digital, menurutnya, menuntut pemimpin untuk menjadi fasilitator—bukan penguasa informasi. Namun di tengah arus kecepatan dan efisiensi, ia mengingatkan bahwa nilai tidak boleh tertinggal.
Justru di ruang digital, kehormatan dalam berkomunikasi, empati dalam merespons, dan kejujuran dalam menyampaikan informasi menjadi semakin penting—terutama di era disinformasi dan hoaks.
DMDI Sulawesi Selatan: Simpul Peradaban Indonesia Timur
Dalam kerja DMDI, Datuk Dr. Jufri memposisikan Sulawesi Selatan bukan sekadar wilayah administratif, melainkan simpul peradaban. Di tanah Bugis-Makassar, nilai lokal bertemu dengan sejarah panjang Melayu-Islam. Dari sana, jejaring budaya, ekonomi, dan kepemimpinan dikembangkan untuk memperkuat Indonesia Timur.
Fokusnya jelas: penguatan pemuda. Melalui pelatihan dan pengembangan yang berakar pada nilai lokal namun berorientasi global, ia ingin melahirkan generasi pemimpin yang tidak tercerabut dari identitas, tetapi siap bersaing di dunia modern.
Refleksi Seorang Pemimpin
Ada momen-momen dalam perjalanan kepemimpinannya ketika nilai diuji dengan keras. Saat tekanan datang untuk mengorbankan kehormatan demi efisiensi, atau kejujuran demi kenyamanan. Di saat-saat itulah ia memilih jalan yang lebih sulit: tetap teguh.
Tantangan terberat, baginya, bukan keputusan besar yang disorot publik, melainkan keputusan kecil yang harus konsisten setiap hari—saat sumber daya terbatas, waktu sempit, dan ekspektasi tinggi.
Dari sanalah ia menarik satu kesimpulan lebih mendalam: kepemimpinan bukan tentang momen heroik, tetapi tentang keteguhan menjaga nilai dalam rutinitas.
Pesan untuk Generasi Muda
Kepada generasi muda, pesannya jernih dan tegas: teknologi boleh berkembang, dunia boleh berubah, tetapi nilai tidak boleh ditinggalkan. Jadilah pemimpin yang menguasai teknologi, namun tetap berakar pada kehormatan, empati, dan kejujuran.
Karena pada akhirnya, peradaban tidak diukur dari seberapa canggih sistemnya, melainkan dari seberapa bermartabat manusia yang memimpinnya.