A JOURNEY BEYOND BORDERS
DMDI
MERAWAT SPIRIT MELAYU,
JIWA ISLAM
DATUK RUSLI ZAINAL ,
NAIB PRESIDEN DUNIA MELAYU DUNIA ISLAM (DMDI)
Ada semangat yang tak pernah padam dalam diri seorang pemimpin yang memahami akar budayanya. Datuk Rusli Zainal, Naib Presiden Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI), menatap perjalanan panjang organisasi ini dengan hati yang teduh dan mata yang jernih. Baginya, dunia Melayu bukan sekadar warisan, melainkan nadi yang terus berdenyut di setiap jiwa.
“Spirit membangun dunia Melayu dan Islam,” katanya perlahan, “adalah sesuatu yang lebih besar daripada sekadar program atau kegiatan.” Ia adalah jiwa kolektif, warisan yang menembus batas geografi dan zaman, menyatukan pelbagai bangsa serumpun di bawah satu panji: iman dan budaya.
Datuk Rusli mengingat masa-masa awal pertemuannya dengan Tun Seri Setia Dr. Mohd Ali Rustam, Presiden DMDI, yang baginya bukan hanya sahabat, melainkan pemimpin yang memiliki semangat luar biasa dalam memajukan peradaban Melayu-Islam.
“Saya melihat semangat beliau bukan semata dalam retorik,” ujarnya, “tetapi dalam tindakan nyata, dalam cara beliau menyatukan orang-orang Melayu dari pelbagai negara di bawah satu cita-cita bersama.” Ujar Mantan Gubernur Riau ini.
Dari pertemanan itulah tumbuh satu kesamaan visi—bahwa Melayu harus bangkit bukan hanya sebagai identitas kultural, tetapi juga sebagai kekuatan moral dan ekonomi yang memberi manfaat kepada umat.
“Melayu itu bukan soal etnis,” ujar Datuk Rusli. “Ia adalah soal kebudayaan, soal nilai, soal cara kita hidup dan menghormati sesama.” Baginya, setiap orang yang hidup dalam semangat keadaban, kelembutan, dan kebersamaan—adalah Melayu dalam makna yang sejati.
Islam dan Melayu, katanya lagi, adalah dua sisi dari satu mata uang peradaban. “Islam itu bagi kita adalah Melayu, dan Melayu itu Islam. Keduanya tidak terpisah.” Dalam pandangan beliau, sejarah membuktikan bahwa peradaban Melayu tumbuh subur di bawah cahaya Islam—dari Melaka hingga Riau, dari Pattani hingga Mindanao.
Datuk Rusli lalu menyinggung peran Tun Ali yang disebutnya sebagai “menara tertinggi” dalam membimbing arah DMDI. “Saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada TYT Tun Seri,” ujarnya penuh hormat. “Beliau bukan sekadar presiden organisasi, tetapi penjaga nyala api warisan, yang merawat spirit Melayu dan jiwa islam.
Ia juga menyampaikan kekaguman kepada Ketua Umum DMDI Indonesia Datuk Said Aldi Al Idrus yang dianggap sebagai sosok berjiwa besar, visioner, dan penuh daya juang. “Saya kira ketua umum kita ini pilihan yang tepat,” ujarnya yakin. “Di tangan beliau, gema dan semarak DMDI semakin terasa di seluruh Nusantara.”
Bukti nyata dari semangat itu tampak dari keterlibatan para pemimpin daerah. Gubernur, wali kota, bupati, hingga tokoh parlemen kini turut mengambil bahagian dalam gerakan DMDI. “Ini bukan kebetulan,” katanya, “tetapi hasil kerja keras yang berlandaskan niat tulus dan visi bersama.”
Bagi Datuk Rusli, kehadiran tokoh-tokoh strategis itu membuktikan bahwa DMDI telah mencapai kedudukan yang penting, bukan hanya dalam konteks budaya, tetapi juga politik dan sosial. “DMDI kini diperhitungkan,” ujarnya. “Ia bukan hanya simbol, tetapi kekuatan nyata yang menyatukan umat.”
Semua itu, katanya, tidak lahir dari kebetulan. Ia lahir dari kerja keras, kesungguhan, dan program-program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. “Kita membangun bukan hanya untuk hari ini,” ujarnya lembut, “tetapi untuk masa depan.”
Datuk Rusli kemudian mengingat masa ketika ia masih menjabat sebagai Gubernur Riau. Waktu itu, semangat membangun kebudayaan Melayu begitu kuat mengakar di provinsinya. “Kami menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu dan Islam,” katanya dengan bangga.
Program-program yang dilaksanakan saat itu, baginya, bukan sekadar acara, tetapi gerakan kebudayaan. “Kami berusaha menanamkan kebanggaan kepada generasi muda bahawa menjadi Melayu adalah kehormatan, bukan nostalgia,” tuturnya.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, beliau melihat DMDI melanjutkan estafet perjuangan itu dengan cara yang lebih luas. “Saya melihat DMDI ini semakin matang,” katanya, “semakin memahami arah zaman, tanpa meninggalkan akar budayanya.”
Ia kemudian menyinggung tentang “lima payung besar” DMDI—kerangka yang menaungi pelbagai cabang kegiatan dan anggota di seluruh dunia. “Inilah payung kebersamaan kita,” ujarnya, “yang memayungi semua negara anggota di bawah satu semangat: ukhuwah Melayu-Islam.”
Dari bawah payung besar itu, lahir pula Saudagar DMDI—jaringan usahawan Melayu-Islam yang menjadi tulang punggung ekonomi umat. “Dari sini,” katanya, “kita bisa membangun konektivitas ekonomi dengan pelbagai pusat industri dan perdagangan di dunia Melayu.”
DMDI, menurutnya, berperanan sebagai penghubung—sebuah jambatan emas antara pengusaha, birokrat, dan masyarakat. “Kita bisa men-support itu semua,” ujarnya, “melalui mediasi, networking, dan sinergi dengan para pembuat kebijakan di berbagai tingkatan pemerintahan.”
Beliau mencontohkan bagaimana hubungan yang terjalin antara DMDI dan berbagai kementerian, lembaga, pengusaha nasional serta tokoh nasional, seperti juga Ketua DPD Republik Indonesia Sultan Bahktiar Najamudin dapat memperkuat posisi ekonomi Melayu-Islam. “Dengan dukungan pemerintah, presiden, dan legislatif,” katanya, “kita dapat membesarkan gerakan ini menjadi sesuatu yang berpengaruh.”
Mengenang masa lalu, beliau tersenyum kecil. “Dulu, ketika di Riau, kami sejalan dengan visi DMDI,” kenangnya. “Kami menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu dan ekonomi serantau.” Bagi beliau, garis sejarah itu bukan kebetulan— melainkan takdir yang terus bersambung.
Kini, dengan kemajuan teknologi dan komunikasi, Datuk Rusli melihat peluang baru bagi DMDI untuk memperkuat jaringannya. “Kita harus beradaptasi,” ujarnya, “namun tetap berpijak pada nilai. Dunia boleh berubah, tetapi ruh Melayu jangan hilang.”
Ketika ditanya apa kesan paling mendalam dari perjalanan DMDI, beliau terdiam sejenak, lalu berkata dengan lembut, “Konsistensi.” Bagi Datuk Rusli, konsistensi adalah kunci—menjaga bara semangat agar tak padam oleh waktu.
“Setiap kali saya hadir di kegiatan DMDI,” katanya, “saya melihat semangat itu tidak pernah surut. Malah, semakin kuat. Dari kegiatan kebudayaan hingga sosial, dari dakwah hingga ekonomi, semuanya berjalan dengan rasa pengabdian yang tinggi.”
Beliau menyinggung program sosial yang sangat berkesan—seperti pemberian mobil layanan masyarakat di ratusan masjid di Indonesia. “Itu bukan hal kecil,” ujarnya, “itu adalah simbol bahwa DMDI hadir untuk umat.”
Selain di bidang sosial, ia juga melihat pertumbuhan luar biasa dalam bidang ekonomi— terutama di bawah pimpinan Tun Ali di Melaka. “Sekarang ada Saudagar Melayu DMDI, dan pelbagai sektor lain yang mulai berkembang,” katanya penuh kebanggaan.
Guru Kehidupan yang Mengasuh Tamadun
Pada sisi lain Datuk Rusli juga menyampaikan bahwa di tengah denyut sejarah Riau yang kaya dengan nilai tamadun Melayu dan bernafas Islam, tumbuh pula sebuah gerakan yang lahir dari kepedulian dan nurani sosial— Pusat Data dan Informasi Perempuan Riau (Pusdatin Puanri). Datuk Rusli Zainal menyebut organisasi ini sebagai ikhtiar mulia yang bukan sekadar berdiri atas nama perempuan, tetapi hadir sebagai rumah ilmu, ruang peradaban, dan wadah penguatan peranan perempuan dalam membangun negeri. Dipimpin oleh Dra. Hj. Septina Primawati Rusli, MM, yang dilantik sebagai Ketua Umum periode 2024–2029, Pusdatin Puanri membawa misi yang teguh: menghimpun data, membangun kesadaran, dan komitmen terhadap pemberdayaan perempuan Riau agar tidak sekadar menjadi objek sejarah, tetapi penulis peradaban.
“Ini bukan hanya organisasi,” ujar Datuk Rusli, “tetapi kekuatan yang memperkukuh jati diri perempuan Melayu-Islam.” Baginya, kehadiran Pusdatin Puanri akan membuka ruang kolaborasi yang luas, termasuk bersama Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI). Sinergi ini diyakininya mampu melahirkan program pemberdayaan yang lebih sistematis, bertaraf regional, bahkan antarabangsa, sehingga perempuan Melayu tidak hanya menjadi penjaga marwah keluarga, tetapi juga penggerak ekonomi, pendidik generasi, dan pelaku perubahan sosial yang berwibawa.
Salah satu program penting Pusdatin Puanri adalah penerbitan buku dokumentasi perempuan Riau; sebuah usaha ilmiah dan kultural yang mendokumentasikan perjalanan, peranan, dan sumbangsih perempuan dalam masyarakat. Bagi Datuk Rusli, inisiatif ini bukan sekadar catatan literasi, tetapi prasasti intelektual yang akan menjadi rujukan lintas zaman. “Perempuan tidak boleh hilang dari catatan sejarah,” ucapnya. “Mereka bukan hanya ibu yang melahirkan generasi, tetapi guru kehidupan yang mengasuh tamadun.”
Lebih dari dua dekade berdiri, Pusdatin Puanri terus berperan aktif dalam kerja-kerja pemberdayaan. Mereka telah menjalin kerjasama erat dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, menyediakan data dan analisis yang menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan pemerintah. “Data adalah kekuatan,” kata Datuk Rusli, “dan melalui data, arah kebijakan bisa ditentukan dengan lebih adil dan tepat sasaran.” Maka jelas, Pusdatin Puanri bukan hanya mencatat realitas perempuan Riau—ia turut menuntun masa depannya.
Bagi Datuk Rusli, inilah bukti bahawa DMDI bukan hanya organisasi, tetapi gerakan peradaban. Ia menggerakkan budaya, menghidupkan ekonomi, dan menyalakan semangat kemanusiaan. “DMDI kini telah menjadi simbol kebangkitan dunia Melayu,” ujarnya tegas.
Menutup perbincangan, beliau menyampaikan satu pesan yang seolah menggetarkan jiwa setiap pendengarnya: “Selama kita masih bernaung di bawah payung yang sama—payung Melayu dan Islam— maka selama itu pula peradaban ini akan terus hidup. Dari Melaka ke Jakarta, dari Brunei ke Riau, dari Pattani ke Mindanao—jiwa kita satu, darah kita satu, masa depan kita satu: membangun dunia Melayu dan Islam.”