Leadership

“Di Antara Surah dan Subuh: Sebuah Pegangan yang Tak Tergoyah”

Sebelum fajar membangunkan bumi dan sebelum matahari menebarkan cahaya pertamanya ke dunia, saya memulai hari bukan dengan tergesa-gesa, melainkan dengan zikir dan ingatan kepada-Nya. Saya menyambut pagi melalui irama wahyu—Surah Yasin dan Ar-Rahman mengalir dari bibir saya seperti dialog rahasia antara jiwa dan Penciptanya. Dalam keheningan yang tersisa setelah Subuh, ketika dunia masih setengah terlelap, saya menemukan ketenangan yang tidak dapat dibeli oleh kekayaan dan tidak dapat dijanjikan oleh kedudukan apa pun. Dan ketika malam kembali melipat hari ke dalam sunyi, saya tidak menyerahkan diri kepada tidur tanpa terlebih dahulu menambatkan hati saya. Surah Al-Waqi’ah dan Surah Muhammad menjadi teman setia saya di malam hari, penjaga yang setia melindungi pikiran saya dari kegelisahan dan jiwa saya dari keletihan. Kehidupan telah mengajarkan kepada saya bahwa kedamaian tidak ditemukan dalam kecepatan, dan kebesaran tidak lahir dari kebisingan—kekuatan sejati dipahat perlahan, sebagaimana sungai memahat batu. Karena itu saya memilih istiqamah daripada tepuk tangan, prinsip daripada kemudahan sesaat, dan tujuan daripada kesombongan. Saya dibesarkan bukan dalam kemewahan, melainkan dalam ketekunan—oleh seorang ibu yang bangun pukul empat setiap pagi untuk menimba air sebelum orang lain mengambilnya, yang mengajarkan kepada saya bahwa martabat bukanlah sesuatu yang diwariskan, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan. Maka saya melangkah di dunia ini dengan berpegang teguh pada satu-satunya kompas yang tak pernah menyesatkan: iman. Di zaman ketika banyak hati hanyut dan jati diri runtuh, saya memilih untuk tetap berakar.

LEADERS & FIGURES

“Di Antara Surah dan

Subuh: Sebuah Pegangan

yang Tak Tergoyah”

HALIMAH YACOB - PRESIDEN KE 8 SINGAPURA


Setiap pagi, ketika fajar belum sepenuhnya merekah, saya menyambut hari dengan sesuatu yang lebih dari sekadar cahaya matahari—saya menyambutnya dengan firman Tuhan. Surah Yasin dan Surah Ar-Rahman menjadi pengantar langkah, seolah menjadi pelita yang menyala di lorong-lorong kehidupanku yang penuh cabaran. Di sela-sela keheningan selepas Subuh, saya temui ketenangan yang tidak bisa ditakar oleh dunia.

Malam pun tak kulepas begitu saja. Sebelum terlelap dalam lena, saya rangkai kembali benang dzikir lewat Surah Al-Waqi’ah dan Surah Muhammad. Seperti sahabat setia yang memelukku di ujung hari, ayat-ayat itu memelihara jiwa saya dari gundah dan gelisah. Mereka bukan sekadar bacaan, tapi napas yang memberi hidup pada batinku.

Saya tahu, jalan menuju ketenangan tak selalu lurus dan lapang. Ramai manusia menginginkan hasil secepat mungkin, seperti kilat yang menyambar. Tapi saya percaya pada aliran air—pelan, sabar, tapi pasti mengukir batu. Maka setiap hari, walau hanya satu surah, saya pilih untuk tetap setia. Istiqamah adalah kunci, bukan kecepatan.

Prinsip hidupku seperti akar pohon tua yang menancap dalam. Saya tidak mudah berubah hanya karena angin berganti arah. Dalam dunia yang mudah bergoyang oleh opini dan ombak popularitas, saya percaya pada kekuatan pendirian. Kerana bila kita tak berprinsip, maka prinsip orang lain akan menggantikan kita, dan di sanalah kehilangan jati diri bermula.

Dari ibuku, saya belajar makna kerja keras yang sebenar. Di sebuah rumah kecil satu bilik, kami berteduh dengan seadanya. Air bersih pun harus diperebutkan dengan penghuni di bawah—jika mereka lebih dahulu membuka paip, kami kehabisan. Maka, ibuku bangun jam empat pagi, bukan untuk mengeluh, tapi untuk mengisi takungan air demi keluarga.

Bayangan ibuku di pagi buta masih tinggal dalam benakku hingga hari ini. Sosok wanita tangguh itu menanamkan dalam diriku nilai yang tak pernah pudar: bahawa keberhasilan bukan hasil dari keberuntungan semata, melainkan hasil dari keringat dan doa yang tak henti-henti. Dari rumah satu bilik itu, lahir cita-cita yang kini menjelma nyata.

Walau kini langkahku membentang jauh, membawa amanah di negeri dan luar negara, saya tak pernah lupa akar tempat saya tumbuh. Bacaan Al-Qur’an tetap kuusung ke mana pun saya pergi. Ia seperti kompas dalam belantara, dan selimut dalam dinginnya dunia. Ia tidak hanya menenangkan, tapi juga menguatkan.

Dan mungkin, dalam dunia yang terus berubah ini, satu-satunya yang bisa kita genggam erat adalah keyakinan. Keyakinan kepada Tuhan, kepada prinsip, dan kepada jalan hidup yang kita pilih dengan jujur. Kerana pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang lebih cepat, tapi siapa yang tetap setia pada jalannya—walau perlahan, namun pasti, menuju cahaya.**

“Rajin Adalah

Jalan Pulang”

Ibusaya bukan sekadar seorang wanita tabah—dia adalah lambang ketekunan yang tidak pernah padam. Dalam rumah sempit yang hanya memiliki satu bilik, dia tidak pernah membiarkan keterbatasan menghambat semangatnya. Setiap dini hari, sebelum penghuni di bawah membuka paip dan menguras air dari tangki, dia sudah bersiap, menadah rezeki setitik demi setitik. Air itu bukan sekadar untuk minum, tetapi untuk hidup: untuk memasak, mencuci, dan menyambung nyawa keluarganya.

Hari-hari beliau diisi bukan hanya dengan kerja rumah tangga, tapi juga dengan keterampilan yang diwariskan secara diam-diam: mengait. Tangannya tidak pernah diam. Kain-kain kait hasil kerjanya menghiasi meja, menyelimuti kerusi, menjadi warisan senyap yang kini masih kusimpan. Ratusan helai—bukan untuk dijual, tapi untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahawa hidup mesti diisi. Bahawa manusia, selama hayat dikandung badan, tidak boleh sekadar duduk berpangku tangan.

Namun, waktu juga menagih bayaran. Beberapa tahun sebelum pemergiannya, penyakit demensia merayap perlahan, melunturkan memori dan keterampilan yang dahulu begitu kuat. Tangan yang dulu mahir mengait kini lupa pada benang dan jarum. Dan di situlah saya semakin yakin, bahawa amalan harian bukan hanya latihan tubuh, tetapi santapan bagi roh. Kita mengisi hari-hari dengan makna agar saat kehilangan datang, kita tidak merasa hampa.

Dari beliau saya warisi semangat—untuk terus bekerja, terus memberi, tanpa lelah. Saya bukan tipe yang bisa duduk diam. Bahkan ketika amanah menjadi Presiden digalas, saya tidak sekadar duduk di istana kaca. Saya berjalan, menziarahi, menyapa, menyokong, mengumpul dana demi mereka yang memerlukan. Bagiku, kuasa bukan perhiasan. Ia adalah alat. Dan alat hanya berguna bila digunakan untuk memperbaiki, bukan memperagakan.

Tidak mudah untuk kekal lurus dalam sistem yang penuh simpang-siur. Banyak yang tersungkur oleh kedudukan yang membuat mereka lupa tujuan. Tapi saya percaya, saat seseorang diberi kepercayaan, maka tanggungjawab itu bukan milik dirinya sendiri. Ia milik masyarakat, milik agama, milik Tuhan. Dan jika kita menyia-nyiakannya, maka bukan hanya kepercayaan yang kita khianati—tetapi fitrah kemanusiaan itu sendiri.

Dalam fikiranku juga sering berlintasan hal-hal yang lebih luas: tentang bangsa, tentang ekonomi, tentang umat. Saya lihat Indonesia—dengan segala sumber dan potensinya—melangkah maju. Di bawah Presiden Jokowi, negara itu mampu menarik pelaburan, memperkukuh ekonomi, dan memberi harapan kepada syarikat-syarikat dalam negeri. Bukan hanya menjual sumber mentah, tapi menambah nilai, agar yang dijual bukan sekadar isi bumi, melainkan buah fikiran.

Di dunia Melayu Islam, kita punya potensi luar biasa—minyak, gas, kelapa sawit, tanah yang subur, rakyat yang muda dan bertenaga. Tapi kita perlu bijak. Sumber tidak akan mengangkat kita jika kita tidak tahu caranya menambah nilainya. Banyak negara berkembang jatuh ke lubang yang sama: kaya sumber, miskin pengolahan. Padahal, dunia tidak menghargai apa yang diambil mentah, melainkan apa yang dimurnikan dengan ilmu dan visi.

Saya percaya, jalan ke depan bukan semata-mata soal modal dan teknologi. Ia soal prinsip dan ketekunan. Soal membina, bukan membakar. Dan dalam dunia yang terus berubah, mungkin yang paling berharga adalah tetap menjadi manusia yang tahu dari mana dia datang, apa tugasnya di bumi ini, dan bagaimana menamatkan perjalanan hidup dengan jejak yang bermakna.

Sebuah

Riwayat

dalam Rintik

Cahaya

Di jantung Singapura yang dahulu berdebu dan berdesakan, di lorong sempit bernama Queen Street, lahirlah seorang anak perempuan pada tanggal 23 Agustus, enam puluh tiga tahun silam. Namanya Halimah, putri bungsu dari keluarga sederhana yang hidup di sebuah rumah susun mungil dengan hanya satu kamar. Di sanalah denyut awal kehidupannya berdetak— di antara napas perjuangan, aroma nasi padang, dan cinta yang tak bersyarat dari seorang ibu.

Ayahnya pergi terlalu cepat— meninggalkan dunia saat Halimah baru berusia delapan tahun. Duka itu tidak berlarut dalam air mata, sebab kehidupan mendesak mereka untuk terus melangkah. Sang ibu, perempuan tabah dengan tangan yang cekatan dan hati yang lapang, mendorong gerobak nasi padangnya di jalanan kota. Dari gerobak itulah, mereka menyambung hidup—lima anak yang perlu diberi makan, disekolahkan, dan dibesarkan dengan penuh martabat.

Halimah kecil tumbuh di antara asap dapur dan suara riuh pasar. Ia bukan hanya seorang anak, tapi juga tangan kanan ibunya—membersihkan tempat jualan, mencuci perkakas, merapikan meja-meja plastik yang ringkih tapi penuh cerita. Di sanalah, pelajaran pertama tentang kerja keras ia genggam, bukan dari buku, tapi dari kehidupan itu sendiri.

Namun Tuhan menanamkan bintang dalam jiwanya—ketekunan dan semangat yang tak padam. Dengan itu, Halimah diterima di sekolah-sekolah bergengsi: SMP Chinese Girls’ School, dan kemudian SMA Tanjong Katong Girls’ School. Di tengah dominasi etnis Cina, ia berdiri sebagai anak Melayu—sendiri, namun tak gentar. Meski sering bolos demi membantu ibunya, dan berkali-kali menunggak biaya sekolah, Halimah tak menyerah. Ia nyaris dikeluarkan, tetapi semesta masih memeluknya.

Peluhnya terbayar ketika ia diterima di Fakultas Hukum Universitas Singapura, tempat para pemuda pemudi terbaik menimba ilmu. Di sana pula ia menerima beasiswa dari Majelis Ugama Islam Singapura, sebagai tanda bahwa usahanya tidak sia-sia.

Tahun 1978, Halimah melangkah ke dunia kerja—bergabung dengan National Trades Union Congress (NTUC). Ia mulai dari dasar, seorang anggota biasa, mendengar keluhan para buruh dan belajar dari getir perjuangan mereka. Tiga dekade berlalu, dan Halimah menjelma menjadi Wakil Sekretaris Jenderal NTUC— disegani dan dicintai, bukan karena jabatannya, melainkan karena hatinya yang tak berubah: tetap setia pada kaum pekerja.

Tahun 2001, sejarah mengetuk pintu. Perdana Menteri Goh Chok Tong mengajaknya memasuki gelanggang politik. Halimah setuju—bukan karena ambisi, tetapi karena keyakinan bahwa suaranya bisa menjadi jembatan bagi mereka yang selama ini tak terdengar. Ia menjadi anggota parlemen untuk Jurong, dan dengan itu, tercatat sebagai perempuan Melayu pertama yang duduk di parlemen Singapura. Kelak, ia pun menduduki kursi Ketua Parlemen—sebuah tangga yang dahulu tak terbayangkan oleh anak perempuan dari Queen Street itu.

Dan ketika sejarah kembali menoleh pada etnis Melayu untuk menentukan presidennya, Halimah menjadi satu-satunya calon yang dinyatakan layak. Bukan karena ia satu-satunya yang berdiri, tapi karena hanya ia yang pantas berdiri di sana. Pada Rabu pagi, tanggal 13 September 2017, Halimah Yacob diambil sumpah sebagai Presiden Republik Singapura— perempuan pertama yang menduduki jabatan tertinggi itu.

Ia datang bukan dari istana, bukan dari keturunan bangsawan, tapi dari lorong-lorong kota dan gerobak nasi padang. Dari sana, ia membuktikan bahwa jalan menuju puncak bisa ditempuh oleh siapa saja yang membawa cahaya dalam dirinya.

Seorang ibu dari lima anak, seorang pekerja keras, seorang pemimpin yang mengakar dalam tanah perjuangan rakyat—Halimah binti Yacob bukan sekadar nama. Ia adalah kisah tentang harapan, keteguhan, dan cinta yang menjelma menjadi sejarah.