Leadership

Menyulam Silaturahmi, Menegakkan Tamadun Melayu-Islam

Di zaman ketika ambisi sering lebih melayani kepentingan diri daripada jiwa, muncul sosok yang memilih jalan berbeda—jalan yang tidak dibentuk oleh tepuk tangan, melainkan oleh tujuan. Datuk H. Said Aldi Al Idrus, Ketua Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Indonesia, adalah seorang yang tidak sekadar berjalan di lorong-lorong kepemimpinan—ia melangkah melintasi benua, merajut persaudaraan dari Nusantara hingga dunia Muslim yang lebih luas. Tak kenal lelah dalam misinya, ia bisa terlihat di Jakarta saat fajar, di Kuala Lumpur menjelang siang, dan di provinsi lain saat malam tiba—namun perjalanannya tidak pernah sekadar tentang geografi, melainkan tentang membangun jembatan. Baginya, silaturahmi bukanlah formalitas; ia adalah arsitektur persatuan. Setiap pertemuan yang ia hadiri, setiap tangan yang ia genggam, setiap janji yang ia tepati menjadi benang yang dijahit dalam sebuah permadani besar peradaban Melayu-Islam. Teguh dan tak tergoyahkan, ia membawa bukan sekadar gelar, melainkan kepercayaan; bukan kekuasaan, melainkan tanggung jawab—membuktikan bahwa kepemimpinan, pada panggilan tertingginya, adalah pengabdian kepada sejarah, identitas, dan takdir.

DMDI INDONESIA

DATUK H. SAID ALDI AL IDRUS

Ketua Umum DMDI Indonesia/Presiden Pemuda Masjid Dunia

MENYULAM SILATURAHMI,

MENEGAKKAN TAMADUN

MELAYU-ISLAM

Dalam deras arus zaman yang kerap menggerus nilai-nilai, muncullah seorang pemimpin yang tidak hanya berjalan, tetapi berlari menyusuri bentang silaturahmi antarbangsa: Datuk H. Said Aldi Al Idrus, Ketua Umum Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Indonesia. Seakan memiliki cadangan energi dari mata air keyakinan, ia melintasi batas waktu dan ruang—hadir di dua, bahkan tiga panggung pertemuan dalam satu hari, meski berada di dua negeri berbeda: Indonesia dan Malaysia. Langkahnya bukan sekadar kunjungan, melainkan sulaman benang persaudaraan yang menguatkan anyaman rumpun Melayu Islam di dunia.

Bagi Datuk Said, yang baru saja diamanahkan sebagai Presiden Pemuda Masjid Dunia, silaturahmi bukan sekadar tata krama sosial, tetapi nafas perjuangan. Ia meyakini, dari silaturahmi tumbuhlah kekuatan persatuan, mengalirlah rezeki, dan panjanglah usia sebuah perjuangan. Ia tidak menggantungkan harapan kepada slogan atau seremoni, melainkan pada komitmen yang dirajut dalam pertemuan ke pertemuan, dalam tangan yang dijabat, dan hati yang disentuh. Peran besar yang melekat padanya bukanlah beban, melainkan amanah yang ia peluk erat, demi memastikan generasi muda Islam tidak hanya menjadi saksi zaman, tetapi juga penentu arah peradaban.

Memimpin organisasi sebesar DMDI, dengan lebih dari dua puluh kepengurusan daerah yang menjalar hingga kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, jelas bukan tugas ringan. DMDI bukan hanya memerlukan seorang ketua umum, tetapi seorang visioner—yang tidak cukup hanya baik, melainkan harus teguh, berani, dan pantang menyerah. Said Aldi menyadari, kemajuan tidak lahir dari langkah ragu. Pemimpin sejati bukanlah ia yang takut gagal, melainkan ia yang takut berhenti mencoba.

Dalam banyak forum, ia selalu mengingatkan dengan nada perenungan yang dalam: “Tamadun suatu bangsa hanya akan besar jika ditopang oleh kekuasaan yang kuat dan ekonomi yang tangguh.” Sebagai mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sumatera Utara, ia paham betul bahwa kekuatan umat tidak hanya ditentukan oleh retorika, melainkan oleh daya tahan ekonomi. Dari sinilah lahir gagasan Saudagar Melayu DMDI—sebuah institusi yang diproyeksikan menjadi tonggak baru dalam membangun kekuatan ekonomi serumpun.

Bagi Datuk Said, ekonomi bukan sekadar soal untung dan rugi, melainkan alat perjuangan untuk menjaga marwah bangsa. Ia melihat, setiap usaha kecil maupun besar yang lahir dari peluh usahawan Melayu-Islam adalah bagian dari perlawanan peradaban: melawan ketertinggalan, melawan kemiskinan, sekaligus membangun martabat. Dengan Saudagar Melayu DMDI, ia ingin menciptakan ruang di mana ukhuwah tidak hanya berhenti pada kata, tetapi menjelma menjadi kekuatan kolektif yang mampu menegakkan tamadun.

Penobatan ini menjadi kelanjutan dari jejak panjang perjuangannya di ranah persaudaraan dan ekonomi serumpun. Jika melalui DMDI ia menegakkan tamadun Melayu-Islam dengan jaringan saudagar dan silaturahmi lintas bangsa, maka melalui Pemuda Masjid Dunia ia kini melangkah lebih jauh—membawa semangat masjid sebagai pusat gerakan umat ke panggung global. Dua peran besar ini bukanlah beban, melainkan amanah yang ia peluk erat, demi memastikan generasi muda Islam tidak hanya menjadi saksi zaman, tetapi juga penentu arah peradaban.

Membawa Pemuda Masjid Dunia ke Panggung Global

Dengan semangat yang membara, Datuk Said Aldi Al Idrus kini resmi mengemban amanah sebagai Presiden Pemuda Masjid Dunia periode 2025–2030. Sebuah tanggung jawab besar yang diumumkan usai pertemuan strategis bersama Menteri Senior Kamboja, TYT Dr. Othman Hassan, di Jakarta. Momentum itu bukan sekadar formalitas, melainkan tanda lahirnya babak baru bagi gerakan pemuda masjid di tingkat internasional.

Pertemuan tersebut menghadirkan makna yang dalam. Kedua tokoh membicarakan rencana kolaborasi yang luas: mulai dari pemeliharaan masjid, pelatihan imam, hingga penyaluran bantuan kemanusiaan lintas negara. Di tengah percakapan itu, Othman Hassan secara langsung memberikan ucapan selamat, menyebut peran Said Aldi sebagai penghubung pemuda Muslim dunia layak diapresiasi dan diteladani.

Nama Said Aldi bukanlah asing bagi publik. Ia telah lama dikenal lewat dedikasi sosialnya di tingkat nasional. Salah satu kiprah monumental adalah kepemimpinannya dalam gerakan pembersihan 220 ribu masjid dan musala di Indonesia bersama Yayasan Prabowo Subianto. Aksi itu membuktikan bahwa semangatnya tak hanya terucap dalam kata, tetapi menjelma dalam tindakan nyata.

Tidak berhenti di tanah air, jejak langkahnya juga melintasi batas negara. Gerakan kemanusiaan yang ia inisiasi untuk Palestina, Suriah, dan Rohingya, menjadi saksi bahwa kepedulian umat adalah bahasa universal. Karena itu, banyak pihak menilai pengangkatannya sebagai presiden bukan hanya tepat, melainkan sangat layak.

Perjalanan menuju kursi kepemimpinan dunia ini pun mendapat sokongan penuh dari berbagai tokoh nasional. Bahlil Lahadalia, kini Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, secara terbuka mendukung visinya. Tokoh lain seperti Ahmad Muzani, Maruarar Sirait, hingga Dito Ariotedjo juga ikut menyatakan dukungan, memperlihatkan bahwa langkah Said Aldi bukanlah langkah seorang diri, melainkan langkah bersama.

Dalam visi lima tahun ke depan, Said Aldi menyiapkan program yang terstruktur dengan cermat. Digitalisasi sistem administrasi masjid internasional, pertukaran pelajar antarnegara Muslim, pelatihan kepemimpinan berbasis komunitas, hingga akademi internasional untuk imam dan dai muda menjadi fokus utama. Ia menekankan, program ini bukanlah wacana semata, melainkan agenda aksi nyata yang melibatkan komunitas lintas negara.

Bagi Said Aldi, masjid bukan hanya tempat ibadah, melainkan episentrum gerakan umat. Ia percaya bahwa generasi muda harus menghidupkan kembali masjid sebagai pusat pendidikan, sosial, hingga pemberdayaan ekonomi. “Masjid tidak boleh terkungkung, ia harus berdiri sebagai pusat peradaban,” ujarnya penuh keyakinan.

Resonansi dari visi ini segera dirasakan. Dukungan hangat datang dari organisasi pemuda Islam di Malaysia, Mesir, Yordania, hingga Turki. Bahkan, komunitas Muslim di Eropa dan Afrika turut menyuarakan sokongan melalui forum keagamaan dan media sosial, menandakan gaung kepemimpinan Said Aldi benar-benar menembus batas benua.

Di setiap kesempatan, ia mengajak pemuda Muslim untuk tidak hanya bergerak di lingkup lokal, tetapi juga memperkuat peran di tingkat global. Ia menegaskan bahwa pemuda masjid harus menjadi pelopor solusi, bukan sekadar penonton zaman. Solidaritas, menurutnya, adalah kunci untuk menjawab tantangan dunia yang kian kompleks.

Dengan terpilihnya Said Aldi, Indonesia semakin diperhitungkan di mata dunia. Ia hadir membawa pendekatan kolaboratif yang progresif, inklusif, dan berdaya saing. Harapan pun tumbuh: kepemimpinannya akan melahirkan wajah baru pemuda masjid dunia, yang bukan hanya teguh di atas sajadah, tetapi juga tangguh menghadapi dinamika global. 

Merajut Kekuatan Pemuda Masjid Dunia

Dalam menguatkan tonggak organisasi Pemuda Masjid Dunia, Said Aldi Al Idrus tidak pernah setengah hati. Ia tahu, sebuah gerakan besar hanya akan kokoh bila ditopang oleh figur-figur yang berwibawa. Dengan penuh keyakinan, ia berhasil meyakinkan sejumlah tokoh Asia untuk bergabung sebagai pembina, menandai babak baru dalam perjalanan organisasi ini.

Melalui musyawarah formatur yang digelar di Singapura, keputusan bulat diambil: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, didaulat sebagai Ketua Dewan Pembina Pemuda Masjid Dunia. Keputusan itu lahir bukan karena jabatan semata, melainkan karena hatinya yang sejak lama terikat dengan masjid. “Dengan peran beliau yang memang hatinya terikat dengan masjid, maka dari itu dengan satu suara para formatur sepakat mendaulat Bahlil Lahadalia menjadi Ketua Dewan Pembina Pemuda Masjid Dunia,” ujar Said Aldi dalam keterangan resminya.

Bagi organisasi ini, Bahlil bukanlah wajah baru. Jejaknya telah lama tercatat, ketika ia mengabdi sebagai Sekretaris Wilayah Pemuda Masjid Papua. Kini, langkahnya kembali ditakdirkan bersua dengan jalan dakwah dan pemberdayaan umat dalam lingkup yang lebih luas, bukan hanya Papua, bukan hanya Indonesia, tetapi dunia. 

Tak berhenti pada satu nama, Said Aldi juga merangkul tokoh-tokoh pesohor Asia Tenggara lainnya. Mantan Presiden Singapura, Halimah Yacob; Yang Dipertua Negeri Malaka, Mohd Ali Rustam; hingga Menteri Senior Kamboja, Othsman Hassan, turut masuk dalam jajaran Dewan Pembina Pemuda Masjid Dunia. Kehadiran mereka ibarat cahaya yang memperkuat pilar organisasi, memperlihatkan bahwa gerakan ini benar-benar lintas bangsa, lintas generasi, dan lintas kepentingan.

Pertemuan di Singapura itu tidak hanya tentang penunjukan, tetapi juga tentang mimpi-mimpi besar yang mulai dijalin. Beberapa kerja sama dibicarakan dengan hangat: pendidikan, investasi, kesehatan, hingga pariwisata berbasis umat. Dari percakapan itu lahir sebuah gagasan mulia — program pelatihan guru mengaji di Kamboja dan Thailand Selatan, sebuah upaya sederhana namun bermakna untuk menjaga cahaya Al-Qur’an tetap hidup di hati generasi muda.

Seluruh agenda besar ini akan menemukan panggungnya pada akhir Oktober 2025, di Jakarta. Hotel Borobudur dipilih sebagai tempat pengukuhan Pemuda Masjid Dunia, sebuah momen yang akan menyatukan energi, tekad, dan doa dari berbagai penjuru dunia Islam. Di sana, Said Aldi dan para pembina akan berdiri bersama, memperlihatkan kepada dunia bahwa masjid bukan hanya rumah ibadah, melainkan pusat peradaban dan solidaritas global.