Event

Melayu Di Sumatera Utara: Identitas, Harmoni, Dan Jalan Masa Depan

Di bawah gelombang globalisasi yang tak pernah diam—di mana identitas kerap dipertukarkan dengan tren dan akar budaya sering ditinggalkan demi relevansi—masih ada suara-suara yang memilih untuk berdiri menjaga marwah asal-usulnya. Salah satunya adalah Dr. Muhammad Isa Indrawan, SE., MM., Ketua Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Sumatera Utara, seorang pemimpin yang meyakini bahwa budaya bukan untuk sekadar dihafal, tetapi untuk dijalani. Bagi beliau, warisan Melayu bukanlah peninggalan yang terkunci di museum atau tersimpan dalam manuskrip lama, melainkan identitas hidup yang dibawa melalui bahasa, nilai-nilai, dan keimanan. “Di DMDI, budaya Melayu bukan sekadar kenangan—ia adalah jiwa yang harus terus kita pelihara,” tegasnya dengan keyakinan yang tenang. Di tanah Sumatera Utara yang kaya dan beragam—di mana Batak, Mandailing, Karo, Nias, Jawa, dan Melayu hidup berdampingan—budaya Melayu hadir bukan sebagai pesaing bagi perbedaan, melainkan sebagai payung harmoni. Esensinya berakar pada etika Islam, kearifan adat, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Namun, Dr. Isa tidak menutup mata terhadap tantangan zamannya. Ketika gedung-gedung pencakar langit terus menjulang dan dunia digital semakin meluas, tradisi justru mulai menyempit dalam ingatan generasi muda. Tren TikTok menyebar lebih cepat daripada pantun. Budaya pop global menjelajah lebih jauh dibandingkan petuah orang tua. “Inilah yang menjadi keprihatinan kita,” katanya. “Banyak anak muda hari ini lebih mengenal simbol-simbol asing daripada warisan budayanya sendiri.” Karena itu, misi DMDI bukanlah melawan arus zaman—melainkan berjalan bersamanya. Menjadikan budaya Melayu mampu beradaptasi tanpa kehilangan jiwanya. Modern tanpa melupakan adab. Mendunia tanpa meninggalkan doa. “Budaya Melayu yang hidup,” ujar Dr. Isa, “harus lentur—tetapi tidak pernah patah.”

DMDI SUMATERA UTARA

MELAYU DI SUMATERA UTARA: 

IDENTITAS, HARMONI,

DAN JALAN MASA DEPAN

“Bagi kami di DMDI, kebudayaan Melayu bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan identitas hidup yang mesti terus dipelihara,” tutur Dr. Muhammad Isa Indrawan, SE., MM., Ketua Umum Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Sumatera Utara. Baginya, di tengah derasnya arus globalisasi, Melayu adalah pelabuhan moral tempat nilai Islami berakar sekaligus bersemi. Sumatera Utara dengan segala keberagamannya menjadi panggung luas di mana Melayu hadir sebagai payung budaya yang inklusif—merangkul perbedaan tanpa kehilangan jati diri.

Modernisasi tidak dianggap ancaman, melainkan peluang untuk memperkenalkan Melayu melalui pendidikan, teknologi, dan media digital. Namun, Isa juga mengingatkan: generasi muda kerap lebih akrab dengan budaya populer global ketimbang tradisi leluhur. Tantangan inilah yang menjadi pekerjaan rumah besar—bagaimana Melayu tetap lentur menghadapi zaman, namun tak tercerabut dari akar, meski dokumentasi yang minim, regenerasi yang lemah, dan kebijakan yang belum berpihak masih menjadi duri yang harus disingkirkan.

Namun, Dr. Isa tak menutup mata pada tantangan. “Generasi muda kita lebih akrab dengan budaya populer global ketimbang tradisi leluhur,” katanya. Inilah kegelisahan sekaligus pekerjaan rumah besar. Di satu sisi, Melayu mesti mampu menyesuaikan diri, di sisi lain tidak boleh tercerabut dari akar. Kurangnya dokumentasi, minimnya regenerasi, serta lemahnya dukungan kebijakan menjadi duri dalam upaya pelestarian.

Maka, keseimbanganlah kunci. Menjadi terbuka terhadap dunia, namun tetap berpijak pada tanah sendiri. Menyerap angin modernitas, namun tetap mengakar pada nilai adat. “Melayu yang hidup adalah Melayu yang lentur, tapi tak patah,” tegasnya.

Dalam pandangan DMDI, Islamlah yang memberi jiwa pada budaya Melayu. “Ungkapan lama “Melayu itu Islam, Islam itu Melayu” masih terasa relevan. “Islam memperkaya ekspresi budaya, memberi kedalaman makna, dan menjaga kita dari sekadar estetika kosong,” jelas Dr. Isa. Dari seni, adat pernikahan, hingga arsitektur, nilai-nilai Islam menjiwai, memberi warna sekaligus arah, kata Dr Isa yang juga Rektor Universitas Pembangunan Panca Budi Sumatera Utara.

Lebih jauh, Islam menjadi benteng moral agar masyarakat Melayu tidak hanyut oleh arus globalisasi. “Dengan identitas yang religius, inklusif, dan tetap modern, Melayu diyakini akan mampu menghadirkan wajah yang seimbang: terbuka, namun tetap punya prinsip,” terang Dr Isa.

“Peluang Melayu di Sumatera Utara amat besar,” ujar Dr. Isa penuh keyakinan. Secara sosial, nilai-nilainya yang menekankan kesantunan, musyawarah, dan gotong royong dapat menjadi perekat harmoni. Secara ekonomi, ia bisa melahirkan pariwisata, kuliner, dan ekonomi kreatif yang bernilai komersial. Secara spiritual, Islam yang melekat menjadi pondasi yang kokoh.

Untuk itu, DMDI mendorong program konkret. Bidang pendidikan perlu memasukkan muatan lokal budaya Melayu dalam kurikulum, membangun pusat kajian, serta pelatihan sastra bagi generasi muda. Bidang seni perlu festival rutin, regenerasi seniman, hingga digitalisasi manuskrip. Bidang sosial perlu memperkuat lembaga adat, menghidupkan tradisi kenduri, dan menjalin kerja sama lintas etnis.

“Strategi ini bukan sekadar melestarikan,” ujar Dr. Isa, “tetapi mengembangkan agar Melayu tetap relevan dalam ekonomi, spiritual, dan sosial masyarakat kita.” Ia percaya, tanpa inovasi, budaya hanya jadi artefak. Tapi dengan inovasi, ia bisa jadi energi pembangunan.

Ketika ditanya tentang wajah Melayu di masa depan, Dr. Isa tersenyum. “Dua puluh, tiga puluh tahun lagi, budaya ini akan lebih adaptif, lebih digital, tapi tetap berakar.” Ia membayangkan tradisi lisan, musik, dan tari Melayu terdokumentasi dalam format digital, bisa diakses di YouTube, aplikasi, hingga platform internasional. Generasi muda tidak lagi harus hadir di panggung fisik untuk belajar, karena warisan itu hidup di genggaman.

Namun, keberlanjutan ini sangat bergantung pada dukungan lintas sektor. Pemerintah, akademisi, lembaga adat, dan masyarakat mesti bersinergi. “Jika ada komitmen bersama, Melayu tidak hanya bertahan, tapi tampil sebagai budaya yang dinamis, islami, dan inklusif,” katanya.

Tak hanya lokal, DMDI juga memandang penting kerja sama regional. Pertukaran budaya dengan Malaysia, Singapura, Brunei, hingga Thailand Selatan bisa meneguhkan identitas transnasional. “Dengan festival bersama, riset akademik, hingga pariwisata halal, Melayu bisa jadi pilar identitas global,” tutup Dr. Isa. Sebuah visi yang menempatkan Melayu bukan sekadar warisan, melainkan masa depan.

Agenda Strategis Asia

“Agenda strategis paling mendesak bagi DMDI,” ujar Dr. Isa adalah memastikan kita tetap relevan, mampu berdiri sebagai organisasi yang disegani di kawasan Asia.” Baginya, DMDI tidak boleh hanya menjadi wadah nostalgia budaya, melainkan aktor strategis yang membawa kontribusi nyata di bidang sosial, ekonomi, dan spiritual.

Langkah pertama adalah penguatan identitas dan nilai. DMDI mesti menegaskan dirinya sebagai rumah besar Melayu-Islam yang inklusif dan moderat. “Kita harus jadi rujukan moral,” kata Dr. Isa, “sebuah organisasi yang mempersatukan, bukan memisahkan. Yang merangkul, bukan menghakimi.” Dalam visi itu, Melayu-Islam tampil sebagai wajah harmoni di tengah perbedaan Asia Tenggara.

Ditambahkan Dr Isa, diplomasi budaya menjadi pilar kedua. DMDI, menurutnya, harus hadir di ruang-ruang forum regional, menjalin sinergi dengan pemerintah, universitas, dan komunitas lintas negara. Melalui festival budaya, kerja sama akademik, hingga ekonomi kreatif, Melayu bisa dipromosikan sebagai identitas transnasional yang hidup dan memberi manfaat.

Era digital juga menuntut transformasi. “Kalau kita ingin menjangkau generasi muda, maka platform digital adalah jawabannya,” jelasnya. Media sosial, portal pengetahuan, hingga aplikasi budaya bersama akan menjadi ruang baru tempat nilai Melayu-Islam disebarkan. Dengan itu, DMDI tidak lagi terbatas pada seminar atau konvensi, tetapi hadir di genggaman tangan anak muda.

Agenda keempat adalah pemberdayaan ekonomi dan pendidikan. DMDI mendorong kolaborasi UMKM lintas negara yang berbasis budaya Melayu-Islam, serta program beasiswa untuk mencetak generasi pemimpin baru. “Anak-anak muda ini,” kata Dr. Isa, “bukan hanya pewaris budaya, tapi juga pemimpin masa depan yang akan membawa Melayu ke pentas global.”

Di Sumatera Utara sendiri, DMDI dapat memposisikan diri bukan hanya sebagai wadah budaya, tetapi juga kekuatan sosial. Melalui kegiatan sosial, dakwah kultural, dan program pemberdayaan, DMDI bisa menjadi perekat harmoni. “Kita mesti jadi mediator yang menyejukkan, bukan mengeraskan suasana,” ujarnya, menyinggung pentingnya menjaga kerukunan antar-etnis.

Pada dimensi ekonomi, Dr. Isa menekankan potensi pariwisata halal, kuliner Melayu, seni pertunjukan, dan kerajinan tangan. “Budaya itu tidak sekadar simbol,” katanya, “tapi juga sumber nilai ekonomi.” Dengan jejaring bisnis Melayu lintas negara, peluang pasar terbuka lebar, bukan hanya di Sumatera Utara, tetapi di seluruh Asia Tenggara.

Sementara pada ranah intelektual, DMDI mesti berperan sebagai motor pengembangan ilmu. Ia mendorong lahirnya pusat kajian Melayu-Islam di perguruan tinggi, sebagai ruang riset, publikasi, dan pelatihan generasi muda. “Budaya yang tak ditulis akan hilang,” tegasnya, “dan hanya dengan riset kita bisa memberi legitimasi intelektual pada kebudayaan kita.”

Karena itu, Dr. Isa menekankan perlunya think-tank atau pusat penelitian di Sumatera Utara. Dengan basis pengetahuan yang kuat, DMDI dapat merumuskan kebijakan, memberi rekomendasi, dan memimpin diskursus regional. “Inilah jalan agar DMDI tidak hanya romantis, tapi juga strategis,” ucapnya.

Nilai-nilai fundamental menjadi landasan yang tak boleh ditinggalkan. Keislaman yang moderat, kemelayuan yang berakar, inklusivitas yang merangkul, kearifan lokal yang membumi, serta inovasi yang berani membuka diri. “Tanpa nilai, kita hanyut. Tanpa inovasi, kita usang,” tutur Dr. Isa, mengingatkan keseimbangan itu.

Baginya, Melayu-Islam harus tampil sebagai budaya yang bukan hanya bertahan, tetapi juga progresif. Tradisi mesti dijaga, tetapi adaptasi teknologi dan ilmu pengetahuan harus dijalankan. “Kita ingin Melayu yang Islami, inklusif, dan modern,” ujarnya, “agar pengaruh kita meluas tanpa kehilangan jati diri.”

Menutup percakapan, Dr. Isa menegaskan bahwa masa depan DMDI ada pada sinergi: antara budaya dan agama, tradisi dan modernitas, lokal dan global. “DMDI mesti menjadi jembatan,” katanya, “yang menghubungkan nilai Melayu dengan dunia. Dari Sumatera Utara, dari Asia Tenggara, untuk peradaban yang lebih harmonis.”

DR. H. MUHAMMAD ISA INDRAWAN, SE., MM:

SIMBOL IKHTIAR UNTUK

MEMBERIKAN CAHAYA

BAGI PERADABAN MELAYU-ISLAM

Lahir di Medan pada 25 Desember 1968, Dr. H. Muhammad Isa Indrawan tumbuh dalam tradisi yang menghargai ilmu dan pengabdian. Sejak muda, ia mengarahkan langkah pada dunia pendidikan dan organisasi, menapaki jalan panjang yang membawanya menjadi sosok yang disegani di Sumatera Utara. Dari ruang kuliah hingga ruang-ruang rapat strategis, Isa selalu hadir dengan semangat yang sama: menjadikan pengetahuan sebagai alat membangun manusia dan bangsa.

Jejak akademiknya menorehkan kisah yang penuh warna. Ia meraih gelar sarjana akuntansi dan arsitektur dari Universitas Pembangunan Panca Budi, lalu melanjutkan pendidikan hingga meraih magister manajemen sumber daya manusia, serta doktor dalam bidang pendidikan luar sekolah di Universitas Pendidikan Indonesia. Bahkan, ia sempat menempuh kursus kepemimpinan pendidikan tinggi di University of Technology Sydney, Australia— membawanya pada pandangan global yang berpijak kokoh pada tanah kelahirannya .

Tak hanya akademisi, Isa juga seorang pemimpin visioner. Saat ini, ia menjabat sebagai Rektor Universitas Pembangunan Panca Budi, sekaligus memegang berbagai posisi strategis di bidang usaha: dari energi baru terbarukan, properti, hingga perkebunan kopi. Jaringan amanah itu menandakan kemampuannya menjembatani dunia pendidikan, bisnis, dan masyarakat. Ia tidak hanya menulis teori, tetapi mewujudkannya dalam tindakan nyata .

Dedikasi Isa pada organisasi pun luar biasa luas. Ia dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI) Sumatera Utara, Ketua Umum Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Sumatera Utara, Ketua Konsorsium Melayu Bersatu, hingga penasehat berbagai asosiasi energi, budaya, dan pendidikan. Dari KNPI hingga MABMI, dari forum riset hingga ikatan saudagar, ia hadir sebagai penghubung gagasan, penggerak kolaborasi, dan penjaga nilai Melayu-Islam di tengah dinamika zaman .

Dalam dirinya, terjalin erat peran intelektual, pengusaha, dan budayawan. Dr. Isa bukan hanya rektor, bukan sekadar pemimpin organisasi, melainkan simbol ikhtiar untuk menghadirkan Melayu-Islam yang berilmu, berdaya, dan berwibawa. Ia menata jalan bukan untuk dirinya semata, melainkan untuk generasi muda yang kelak akan melanjutkan perjuangan. Dari Medan, ia menebarkan visi ke Asia, bahwa Melayu dan Islam akan selalu hidup, berkembang, dan memberi cahaya bagi peradaban.***